Ketahanan Pangan yang Resilien adalah Kunci Mengakhiri Kelaparan

Ketahanan Pangan yang Resilien adalah Kunci Mengakhiri Kelaparan

  • Admin Pijar
  • 14 April 2022
  • Pikiran Kami

Sistem rantai pangan yang meliputi proses produksi, distribusi dan konsumsi yang resilien disusun pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dan 2020-2024, mengacu pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs). Keberhasilan sistem ini memiliki beberapa indikator meliputi ketersediaan, keterjangkauan dan kualitas yang terstandar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang cukup.

Pemerintah memiliki empat program utama untuk mencapai tujuan tersebut, yakni penyediaan dukungan terhadap penurunan angka risiko bencana, peningkatan resiliensi menghadapi isu perubahan iklim, manajemen sumber daya alam yang berkelanjutan sehingga meningkatkan produktivitas disertai kualitas agar semakin kompetitif, dan terakhir, harmonisasi kebijakan antar institusi.

Ketahanan pangan sangat penting dalam pencapaian SDGs di Indonesia, khususnya SDG nomor 2 yaitu untuk mengakhiri kelaparan, memperbaiki nutrisi dan mempromosikan pertanian yang berkelanjutan. Namun sayangnya, ketahanan pangan semakin menurun selama pandemi, dan sistem rantai pasok dalam sektor pangan mengalami gejolak yang cukup berat.

Distribusi yang panjang membuat ketersediaan bahan sering terganggu akibat banyaknya pembatasan gerakan. Indonesia sekarang ada pada posisi 69 dari total 113 negara dalam Global Food Security Index 2021 oleh Economist Impact. Pada tahun 2020, Indonesia berada di posisi 65 sedangkan tahun sebelumnya lagi di posisi 62. Indonesia juga berada di peringkat ke-73 dari 116 negara di Global Hunger Index 2021, yang menunjukan tingkat kelaparan yang moderat.

Selain pandemi COVID-19, tantangan dari meningkatnya kerja pembangunan yang semakin banyak mengambil porsi lahan, serta isu perubahan iklim juga berdampak langsung pada sistem ketahanan pangan nasional. Isu iklim bermula dari kegiatan kecil yang secara iteratif kita lakukan. Misalnya, masalah sampah makanan, juga sampah rumah tangga, serta emisi gas yang berbahaya bagi atmosfer.

Isu iklim merupakan isu bersama karena adanya efek domino. Apa yang kita lakukan di sini berdampak pada kehidupan mereka di laut, gunung, maupun hutan yang jaraknya terpisah pulau. Begitu sebaliknya.

Dampak perubahan iklim yang nyata adalah terjadinya kenaikan suhu rata-rata di bumi. Petani, nelayan, peternak dan pekerja lain di sektor produksi menghadapi tantangan langsung dari bencana maupun menurunnya kualitas lingkungan. Berbagai tantangan akibat perubahan iklim yang dihadapi, mulai dari badai El Niño, kekeringan dan kelangkaan sumber air bersih, penurunan kualitas tanah, sampai pencemaran dan risiko resistensi antimikroba. Di sisi lain, ada juga berbagai upaya untuk memperbaiki kualitas lingkungan, misalnya melalui konservasi air dan tanah agar petani lebih resilien.

Walaupun terdapat tantangan dalam penguatan sistem pangan Indonesia, terdapat juga berbagai peluang, khususnya bagi pelaku UMKM karena meningkatnya tren go local. Selain itu, pandemi COVID-19 juga mendorong transformasi sistem teknologi pada sektor agrikultur. Penggunaan teknologi digital di sektor ini berkorelasi positif dengan hasil panen, yang berdampak langsung pada peningkatan profit.

Penasaran inovasi teknologi apa saja yang diperlukan untuk membangun ekosistem bisnis agrikultur yang positif? Simak di artikel berikutnya!

Author: Isti’anatul Muflihah

Editor: Indira Zahra-Aridati

Jakarta Office:
Jalan Taman Patra III No. 2 Kuningan, Jakarta Selatan 12950
Yogyakarta Office:
Jl. Dewi Sartika No. 9, Terban, Kec. Gondokusuman, Yogyakarta 555223
hello@pijarfoundation.org

MEDIA SOSIAL

Mari berkolaborasi, ciptakan masa depan yang berkelanjutan & berkesetaraan!

Facebook
Instagram

BERLANGGANAN

Terus terhubung dengan masa depan melalui Pijar. Mari berkolaborasi, mari menjadi Pijarian!