Pijar Foundation & Kitong Bisa Foundation tanda tangani kerja sama untuk sediakan akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa luar Jawa

Press Room
Feb 21, 2023
Pijar Foundation & Kitong Bisa Foundation tanda tangani kerja sama untuk sediakan akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa luar Jawa

Pertama kali diterbitkan di Detik.com

Jakarta – Beberapa waktu ke depan, masyarakat umum dapat mengakses pengetahuan berkualitas dari perguruan tinggi secara gratis. Berkat kemajuan teknologi pendidikan. Hal ini dikatakan oleh dua praktisi pendidikan yakni CEO Kitong Bisa Foundation (KBF) Johannes FH Faidiban dan Executive Director Pijar Foundation Ferro Ferizka Aryananda saat melakukan penandatangan kerjasama di Kantor KBF Jakarta, Senin (20/2/2023).

Keduanya tengah menjalin kerjasama dalam program Pusat Inovasi Kewirausahaan Masyarakat (PIKM), yang tersedia di tujuh basis perguruan tinggi pada provinsi di luar Pulau Jawa.

Johannes menyampaikan bahwa kerjasama tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral terhadap masyarakat Indonesia, terutama bagi masyarakat di luar Pulau Jawa dan bagian Timur yang akses pendidikannya masih terbatas.

“Kerjasama ini akan menambah jangkauan KBF ke wilayah yang selama ini digarap yayasan yakni luar Pulau Jawa umumnya dan khususnya Indonesia Timur. Kami memiliki tanggung jawab moril besar ke Indonesia Timur karena di Pulau Jawa, akses sangat luas sementara luar Pulau Jawa sangat terbatas, sehingga perlu kolaborasi memberikan modul kampus materi inovasi dan kewirausahaan berkualitas,” ujarnya.

Program kerjasama tersebut terdiri dari dua yakni pendidikan non formal dan pendidikan formal. Johannes menjelaskan bahwa pendidikan non formal terbuka tak hanya untuk mahasiswa tapi juga masyarakat umum dengan 14 modul daring yang diampu praktisi industri yang sudah pakar dengan pengalaman karir di di Bank Syariah Indonesia, World Bank, Unilever, Jala Tech, Nutrifood, dan lainnya.

Untuk mendapatkan modul gratis, masyarakat nantinya bisa menghubungi kampus mitra KBF. Apabila dapat memenuhi kuis, tugas, dan ujian, maka akan peroleh sertifikat kompetensi kerja minimal dua buah, yakni dari KBF dan Pijar Foundation.

Sementara itu, untuk pendidikan formal kedua yayasan meluncurkan program bertajuk Future Skill Batch 7 yang setara mata kuliah Kewirausahaan 2 atau 3 SKS. Nantinya, peserta akan mendapatkan materi dan untuk yang masuk ke dalam kriteria tertentu bisa memperoleh modal usaha setelah menyelesaikan program.

Ferro menuturkan bahwa maksimal lima tahun ke depan, demokratisasi di perguruan tinggi akan terjadi. Menurutnya, siapa pun bisa mendapatkan akses pendidikan tanpa dibatasi ruang kelas.

“Dalam beberapa tahun ke depan, maksimal lima tahun, demokratisasi perguruan tinggi akan terjadi. Siapapun bisa akses ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi berkualitas, siapapun bisa belajar dari manapun, ruang kelas akan lebih leluasa dari sekarang, dan praktisi akan banyak terpanggil menjadi dosen,” kata Ferro.

Menurut Executive Director Pijar Foundation tersebut, kemudahan akses pendidikan saat ini sudah mulai terjadi dengan adanya Kampus Merdeka yang memberi kebebasan civitas akademik mengakses 40 SKS materi perkuliahan dari industri dan para praktisi secara langsung.

Ia mengatakan bahwa program dari Kemendikbudristek tersebut sudah relevan dengan konsep demokratisasi ilmu pengetahuan kampus secara global.

Ferro pun menuturkan bahwa ruang saat ini sudah tidak menjadi batasan dalam mendapatkan akses pendidikan. Ia memberi contoh perusahaan Air BnB, yang tidak punya aset bangunan namun bisa mengalahkan chain hotel besar seperti Accor dan Hilton.

Menurutnya, hal itu dapat terjadi karena penyedia jasa bisa datang dari siapapun, termasuk yang kapitalnya tidak banyak namun memiliki potensi pengguna tersendiri. Orang akan menggunakan sesuai kemampuan kantongnya sehingga bisa merasakan kenyamanan dalam perjalanan.

Recent Posts

Yayasan Pijar terapkan tiga pilar wujudkan Indonesia Maju 2045

Artikel ini diterbitkan oleh: Antara News Yayasan Pijar menerapkan tiga pilar untuk mewujudkan Indonesia Maju 2045 yakni inovasi, talenta, dan kebijakan.  Ketiganya tidak bisa terlepas satu sama lain dan harus bergerak bersama serta selaras untuk mencapai Indonesia...