Menciptakan Ekosistem Berkelanjutan bagi Cendekia-Wirausaha

Insights
Sep 26, 2023

Opini oleh Ruth Angela Christie Kirana, Manajer Program Lestari. Artikel dipublikasi pertama kali oleh CNBC.

Jalan menuju Generasi Emas 2045 akan dipenuhi dengan disrupsi. Oleh karena itu, para pemikir muda yang berjiwa wirausaha sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan inovasi di dunia baru yang penuh tantangan ini. Meskipun banyak terobosan baru telah bermunculan di bidang akademis, ekosistem pendukung bagi para inovator perlu segera diciptakan untuk mewujudkan ide-ide mereka menjadi kenyataan.

Pembukaan
Sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia dalam waktu dekat. Status Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terpadat keempat di dunia saat ini didukung oleh bonus demografi.

Peluang ini kemudian dirangkum ke dalam visi besar untuk mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045-sebuah hadiah untuk ulang tahun ke-100 negara ini. Dalam mendukung agenda ini, investasi di bidang sumber daya manusia seringkali menjadi bagian besar dari wacana, yaitu peningkatan ketersediaan ruang kerja dan kualitas talenta.

Namun, ada satu komponen yang tak kalah penting yang sering terlewatkan, yaitu laju pengembangan inovasi. Seperti yang dicatat oleh sebuah penelitian, tingkat inovasi dan kemajuan teknologi yang tinggi akan menguntungkan pertumbuhan ekonomi dalam banyak hal.

Pertama, inovasi akan meningkatkan efisiensi dan daya saing praktik bisnis yang ada. Kedua, inovasi memungkinkan penemuan peluang-peluang baru yang akan muncul di masa depan dan memastikan sebuah negara untuk tetap relevan dalam memenuhi permintaan pasar masa depan yang bersifat mengganggu dan tidak pasti. Ketiga dan terakhir, inovasi membantu mempercepat pemulihan ekonomi dan jalan menuju pertumbuhan yang berkelanjutan dan lebih hijau.

Inovasi Indonesia telah mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Indeks Inovasi Global yang dirilis oleh World Intellectual Property Organization (WIPO) 2022, Indonesia telah mencapai peringkat ke-75 dari 132 negara yang terdaftar.

Ini merupakan lompatan besar karena sekarang Indonesia berada 12 peringkat di atas tahun sebelumnya. Selain itu, WIPO juga menobatkan Indonesia sebagai salah satu negara “Innovation Achievers” karena memiliki kemajuan inovasi yang pesat di antara negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah.

Para akademisi dan akademisi merupakan salah satu pihak yang paling banyak berkontribusi untuk kemajuan inovasi nasional. Minat masyarakat Indonesia terhadap pendidikan riset Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) menunjukkan tren yang meningkat, dari hanya 3,9% di tahun 2015 menjadi 36,4% di tahun 2021. Jumlah publikasi ilmiah telah melonjak secara signifikan, dengan publikasi internasional setiap tahunnya mengalami peningkatan signifikan rata-rata 10% hingga 40%.

Modalitas akademis yang ada saat ini tampaknya sudah lebih dari cukup untuk memajukan inovasi di Indonesia. Namun, dibutuhkan ekosistem yang mendukung untuk memandu proses diseminasi inovasi ke pasar. Ekosistem tersebut harus mampu memfasilitasi para akademisi dengan wawasan kewirausahaan, membuka akses pasar, memberikan perlindungan hak kekayaan intelektual, dan menghasilkan pendanaan yang cukup untuk komersialisasi.

Mengembangkan Pola Pikir Wirausahawan di Kalangan Cendekia
Meskipun hasil penelitian terus meningkat, sayangnya masih ada tantangan yang signifikan dalam menerjemahkan pengetahuan akademis ini ke dalam aplikasi dunia nyata yang dapat mendorong kemajuan ekonomi. Kerangka kerja pendidikan saat ini mengharuskan para profesor untuk memenuhi kredit publikasi tahunan.

Diyakini bahwa peningkatan jumlah publikasi di jurnal bereputasi mencerminkan kemampuan untuk menciptakan penemuan berbasis sains dan teknologi sebagai fasilitator hulu inovasi. Sayangnya, kuantitas lebih diprioritaskan daripada kualitas demi kepentingan pemeringkatan dan akreditasi. Penelitian yang selalu bersifat teoritis semakin memperlebar kesenjangan antara dunia akademis dan industri.

Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua penelitian kehilangan nilai praktisnya. Baru-baru ini, telah muncul terobosan-terobosan baru yang diinkubasi oleh universitas dan institut di Indonesia, seperti penciptaan MyECO, sebuah startup di bidang efisiensi energi yang didirikan oleh seorang mahasiswa. Namun, sejauh mana produk tersebut dapat mencapai pasar masih harus dilihat. Hal ini mungkin berkaitan dengan kurangnya perspektif kewirausahaan di kalangan akademisi.

Meskipun ada sekitar 19% dari kelompok penduduk Indonesia berusia 25-34 tahun yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi, hanya 8,4% orang dewasa di Indonesia yang melihat adanya peluang yang baik untuk memulai bisnis. Terbatasnya akses terhadap pelatihan kewirausahaan formal membatasi kemampuan para akademisi untuk memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menerjemahkan penelitian mereka ke dalam usaha bisnis yang layak.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Global Entrepreneurship Monitor (GEM) menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan secara signifikan meningkatkan niat individu untuk memulai bisnis dan meningkatkan keterampilan kewirausahaan mereka. Dengan memberikan pendidikan kewirausahaan yang disesuaikan dengan kebutuhan para pelajar, Indonesia dapat membekali mereka dengan pengetahuan dan pola pikir yang diperlukan untuk mengubah penelitian menjadi usaha yang sukses.

Hal ini perlu dibarengi dengan bimbingan untuk memastikan pertumbuhan bisnis yang stabil dan umur yang panjang. Selain itu, membangun program bimbingan yang menghubungkan para sarjana kewirausahaan dengan mentor yang berpengalaman dapat memberikan bimbingan yang berharga, wawasan industri, dan kesempatan berjejaring, sehingga mendorong kesuksesan kewirausahaan mereka.

Perlindungan Regulasi yang Memadai untuk Terobosan Baru
Bahkan dengan jumlah sarjana yang berjiwa wirausaha yang cukup, mereka masih harus menghadapi serangkaian masalah struktural yang menjadi disinsentif bagi penciptaan bisnis yang inovatif. Indonesia berada di peringkat yang relatif rendah dalam hal perlindungan dan penegakan kekayaan intelektual, berada di peringkat ke-50 dari 50 negara yang disurvei oleh Kamar Dagang Global Innovation Policy Center (GIPC).

Fenomena ini menyulitkan para cendekiawan untuk mengamankan hak kekayaan intelektual (HAKI) mereka dan menarik investor atau mitra potensial. Dengan hanya 11% dari seluruh pelaku ekonomi kreatif Indonesia yang telah memiliki hak kekayaan intelektual, jalur untuk proses komersialisasi penemuan berbasis penelitian bahkan tidak disarankan.

WIPO melaporkan negara-negara dengan kerangka kerja hak kekayaan intelektual yang kuat cenderung menarik lebih banyak investasi asing dan mempromosikan inovasi. Dengan meningkatkan dukungan hukum dan kekayaan intelektual bagi para akademisi yang berjiwa wirausaha, Indonesia dapat menciptakan lingkungan yang mendorong dan melindungi kekayaan intelektual mereka, sehingga memberikan kepercayaan diri bagi mereka untuk mengkomersialisasikan penelitian mereka.

Selain itu, perlindungan perlu digabungkan dengan menyediakan pendaftaran IP yang disederhanakan dan dipercepat. Proses ini akan secara signifikan menguntungkan para sarjana kewirausahaan, karena akan memudahkan proses birokrasi yang membosankan.

Sebagai contoh, Singapura telah menerapkan program pemeriksaan paten yang dipercepat yang memungkinkan pemohon untuk mendapatkan paten hanya dalam waktu enam bulan. Pendekatan yang sama di Indonesia dapat mendorong para akademisi untuk mendapatkan hak kekayaan intelektual mereka dengan lebih efisien.

Memberikan Akses terhadap Pasar pada Cendekia-Wirausahawan
Selain itu, para akademisi seringkali kesulitan dalam mengakses pasar. Aspek ini merupakan faktor penting untuk keberhasilan usaha berbasis penelitian. Namun, para akademisi sering menghadapi kendala dalam mengakses pasar karena terbatasnya koneksi industri, informasi pasar, dan dukungan untuk memasuki pasar. Oleh karena itu, kesenjangan dalam pengetahuan dan keahlian ekonomi perlu dijembatani untuk meminimalkan hambatan dalam komersialisasi.

Menyediakan sumber daya riset pasar, koneksi industri, dan bantuan untuk penetrasi pasar dapat secara signifikan membantu para wirausahawan dalam menavigasi tantangan memasuki pasar. Salah satu praktik yang baik datang dari program Kemitraan Startup Eropa Komisi Eropa, yang mendukung perusahaan rintisan dengan menghubungkan mereka dengan perusahaan, investor, dan akselerator, memfasilitasi akses pasar dan kemitraan.

Sinergi serupa antara sektor publik dan swasta dapat dilihat pada program Innovate UK dari pemerintah Inggris, di mana pemerintah bermitra dengan para pemimpin industri untuk mendanai dan mendukung proyek-proyek inovatif, memfasilitasi akses pasar bagi perusahaan rintisan dan mendorong pertumbuhan mereka. Mendorong kemitraan semacam itu di Indonesia dapat memperluas peluang pasar bagi para sarjana wirausaha.

Pendanaan yang Efektif untuk Memacu Inovasi Berbasis Riset
Masalah dalam penetrasi pasar sangat berkorelasi dengan kemampuan para sarjana kewirausahaan untuk mendapatkan investasi modal. Menurut Asosiasi Investor Indonesia, terbatasnya pilihan pendanaan masih menjadi tantangan yang signifikan bagi para sarjana kewirausahaan.

Hanya sebagian kecil usaha berbasis penelitian yang menerima dukungan finansial, sehingga membatasi kemampuan mereka melakukan validasi pasar dan meningkatkan skala usahanya. Hal ini terutama disebabkan sifat usaha berbasis penelitian yang dipandang sebagai sumber daya yang intensif, terutama jika mengacu pada banyak lapisan pengujian prototipe. Oleh karenanya, ketidakpastian margin pengembalian membuat kepercayaan di antara para investor cenderung rendah.

Mengalokasikan dana khusus untuk usaha tahap awal sangat penting untuk menyediakan sumber daya yang dibutuhkan oleh para sarjana kewirausahaan untuk mengembangkan prototipe, melakukan validasi pasar, dan mendapatkan pelanggan awal. Dana awal yang didukung pemerintah, jaringan angel investor, dan perusahaan modal ventura yang berfokus pada usaha berbasis penelitian dapat memberikan dukungan keuangan yang diperlukan pada tahap awal yang krusial.

Di sisi lain, meningkatkan investasi publik dalam program komersialisasi penelitian dapat berkontribusi secara signifikan untuk mendanai para sarjana kewirausahaan. Program Bantuan Riset Industri (IRAP) dari pemerintah Kanada memberikan bantuan keuangan dan layanan konsultasi untuk membantu perusahaan rintisan dalam mengkomersialisasikan penelitian mereka. Dengan menerapkan program serupa, Indonesia dapat menjadi katalisator komersialisasi penelitian dan inovasi.

Menuju Ekosistem Inovasi yang Berkelanjutan
Kerangka kerja untuk ekosistem inovasi yang ideal perlu memperhatikan keberlangsungannya. Memastikan keberlanjutan diperlukan untuk memastikan bahwa inovasi tidak hanya berada dalam kungkungan ranah teoritis atau pengaturan laboratorium yang terkendali, dengan mempertahankan lingkungan yang diberi insentif secara ekonomi dan dilindungi secara hukum untuk mewujudkannya.

Hal ini membutuhkan tindakan bersama dari berbagai pihak. Inovasi yang ideal harus dapat terus memfasilitasi komunikasi lintas sektoral, memungkinkan aksesibilitas, dan mempertajam nilai tambah, serta keunggulan kompetitif.

Seiring dengan visi Indonesia menuju Generasi Emas 2045, sangat penting untuk memprioritaskan kolaborasi dan dukungan yang diperlukan agar para sarjana wirausaha dapat berkembang. Investasi dalam pengembangan keilmuan akan memberikan hasil yang positif bagi masa depan bangsa.

Integrasi yang berhasil antara penelitian, kewirausahaan, dan industri tidak hanya akan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi juga memberdayakan warganya untuk membentuk masa depan yang lebih cerah dan sejahtera.

Pada akhirnya, penciptaan ekosistem yang adil merupakan elemen penting yang diperlukan untuk memupuk semangat kewirausahaan, merangkul inovasi, dan mengeluarkan potensi penuh dari para cendekiawan Indonesia. Prasyarat tersebut akan mendorong bangsa ini menuju masa depan di mana generasi emas Indonesia akan menjadi pemimpin global dalam bidang penelitian, teknologi, dan kewirausahaan, yang mendorong pembangunan berkelanjutan dan kemakmuran bagi semua.

Peneliti Kebijakan Publik di Pijar Foundation Andy Fernanda turut berkontribusi dalam tulisan ini

Recent Posts

Trilema Bakal Calon Presiden Indonesia 2024, Trilema Energi

Opini oleh Huud Alam, Enterprise Implementation Specialist di Zeroe dan Fellow di Global Future Fellows on Energy. Artikel pertama kali dipublikasikan oleh CNBC. Suasana jelang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2024 terasa semakin hangat. Masyarakat...

Towards an equitable EU–ASEAN green deal

Written by Brasukra G Sudjana, Vriens and Partners, and Cazadira F Tamzil, Pijar Foundation. Originally published in the East Asia Forum  The European Green Deal has caused concerns among emerging markets, especially ASEAN member states. The Green Deal is an array of...